Saturday, March 2, 2013

Shanghai, Si Mutiara dari Timur

Pada bulan September akan diselenggarakan Grand Prix Formula 1 di kota Shanghai, nah sebelum kita bersiap-siap menyaksikannya, tidak ada salahnya kalau kita berkeliling sejenak mengenal kota Shanghai yang dikenal sebagai kota Metropolis ini.
Tentang Shanghai
Shanghai, yang sering disebut “Hu”, berlokasi di muara sungai Yangtze yang dibatasi oleh provinsi Jiangsu dan Zhesiang di sebelah barat dan lau Cina Timur di sebelah timur. Berpenduduk lebih dari 16 juta jiwa dalam luas area sebesar 6341 kilometer persegi, membuat Shanghai menjadi wilayah dengan kepadatan penduduk No.1 di dunia.
Meski demikian, pertumbuhan penduduk yang cukup cepat ini dibarengi pula dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat di Shanghai. Lihat saja, begitu menginjakkan kaki di Bandara Internasional Pudong, akan muncul rasa kagum melihat bangunan megah bergaya arsitektur modern, terutama pilar-pilar gantung di bagian atap bangunan.
Bandara Pudong sendiri berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Shanghai. Tapi bila kita beranggapan kota Shanghai seperti kota lama yang ada di film-film Cina, lagi-lagi kita akan salah besar. Jalan tol serta jalan-jalan layang, jembatan ala Golden Gate San Fransisco dan gedung-gedung pencakar langit adalah pemandangan sebuah kota metropolis yang tampak di hadapan.
Tak hanya itu, fasilitas transportasi pun memberikan pilihan yang membuat orang berdecak kagum. Dari bandara Pudong, naik bus ke pusat kota Shanghai bisa satu sampai satu setengah jam tergantung padat tidaknya lalu lintas. Tapi dengan kereta Ekspress (Maglev) berkecepatan 400 kilometer per jam hanya memakan waktu delapan menit saja.
Ada Apa Di Shanghai?
Dikarenakan banyaknya para pendatang dan wilayahnya yang mudah dijangkau, Shanghai menjadi sebuah kota dengan berbagai budaya asing, yang berhubungan dengan sejarahnya yang cukup rumit dan panjang. Banyak gedung dibangun dalam gaya barat yang bervariasi, terlihat di Shanghai Bund. Bahkan para turis asing pun akan merasakan telah mengenal daerah tersebut jika berjalan menyusuri kawasan bergaya Eropa itu.
Perpaduan antara gaya Timur dan gaya Barat inilah yang membuat kawasan Bund dikenal dengan sebutan “pameran arsitektur dunia”. Jika ingin melihat kota Shanghai tempo dulu, maka mampirlah di wilayah kota lama (Shanghai Old City). Banyak bangunan dari tahun 1920-an dan 1930-an yang masih bertahan hingga kini. Sejalan dengan kunjungan ke kota lama, kita juga bisa melihat Taman Yuyuan, sebuah taman bergaya Suzhou yang dibangun pada masa dinasti Ming. Taman ini sangat terkenal di kalangan penduduk lokal maupun pendatang.
Tempat lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Kuil Budha (Jade Buddha Temple) yang berada di sebelah barat laut kota Shanghai. Kuil ini merupakan kuil yang paling terkenal di kota Shanghai, dikunjungi oleh mereka yang beribadah maupun para turis. Kuil tersebut terkenal dengan dua patung Buddhanya, dimana salah satu berbaring dan lainnya dalam posisi duduk.
Shanghai cukup dikenal baik di dalam dan luar negeri tidak hanya sebagai kota metropolis yang menjanjikan dengan kekayaan kebudayaan di dalamnya, tapi juga merupakan kota dengan daya tarik pariwisata yang berkembang beberapa tahun terakhir.
Panorama memang menjadi salah satu kekuatan kota yang dapat dinikmati para pengunjung tanpa kecuali. Berdiri di perahu yang menyusuri sungai Huangpu, kita dapat berdiri menikmati pemandangan indah sepanjang sungai dan cakrawala kota, dimana terdapat deretan gedung-gedung megah kolonial barat awal abad ke-20. Sungai itu pun ramai dengan kapan-kapal besar yang berlayar hilir mudik.
Di sisi timur atau dikenal dengan wilayah Pudong modern, berderet bangunan-bangunan pencakar langit dengan gaya berbeda-beda. Salah satu bangunan oriental futuristik yang berdiri adalah menara TV Mutiara (Pearl TV Tower). Dengan tinggi mencapai 468 meter, Menara TV Mutiara merupakan menara TV tertinggi ketiga di dunia setelah menara CN di Toronto setinggi 553 meter dan Menara TV Moscow di Rusia setinggi 535 meter. Karenanya menara ini telah menjadi simbol bagi kota Shanghai dan dihormati sebagai salah satu dari sepuluh pemandangan terbaik di kota Shanghai.
Satu lagi bangunan yang terkenal di wilayah baru Pudong adalah bangunan Jin Mao (Jin Mao Mansion). Dan karena banyaknya gedung pencakar langit yang bercahaya sangat terang itulah, Shanghai mendapat julukan di dunia internasional sebagai “Mutiara Dari Timur”.
Belanja Yuk Di Shanghai
Bila sudah puas menikmati pemandangan kota Shanghai, rasanya tidak lengkap bila tidak mencari buah tangan bagi orang yang dicintai di negeri seberang. Tidak salah bila Shanghai dikenal sebagai surga bagi mereka yang senang berbelanja, karena salah satu tempat perbelanjaan yang paling terkenal di Cina “Nanjing Road” memang ada disini. Jajaran pertokoan dan supemarket yang menjual berbagai jenis pakaian, makanan dan barang-barang kerajinan memberikan banyak pilihan pada para pengunjung. Spesial makanan, pengunjung dapat menikmati citarasa dari berbagai jenis makanan yang ada di dunia, meskipun citarasa masakan penduduk Shanghai memang campuran.
Sejumlah pusat perbelanjaan tersohor seperti Cheng Huang Mioa Market, Yuyuan Market dan Nanjing Xilu serta Hua Hai Road dapat pula didatangi untuk lebih memuaskan mata. Gedung bertingkat bergaya rumah kuil, adalah salah satu yang menjadi daya tarik Cheng Huang Mioa Market, selain jumlahnya yang terdiri dari beberapa gedung. Bisa dibayangkan, empat jam rasanya tidak cukup untuk berbelanja di kompleks pasar ini. Bagaimanapun, pengalaman mengunjungi kota Shanghai bisa dipastikan akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan selamanya.

Friday, March 1, 2013

Legenda Bukit Posuak


Begitu memasuki Jorong Kotogodang Maek, saya langsung dapat melihat sebuah bukit membentang di ujung timur laut sana. Uniknya, pada bagian atas bukit itu terdapat bolongan berbentuk pola seperempat lingkaran seperti habis ditusuk oleh sesuatu, sehingga dari celah tersebut tampak secuil warna biru langit di baliknya.
Itulah Bukit Posuak, landmark Nagari Maek. Dalam bahasa Minang, kata posuak membang berarti bolong alias tembus. Di beberapa tempat di nagari ini, pemandangan Sungai Batang Maek yang mengalir tenang, atau hamparan sawah-sawah hijau berlatarkan bukit ini sungguh menyejukkan mata.
Celah Bukit Posuak dapat dicapai dalam waktu satu setengah jam dari Jorong Ronah, setelah menempuh rimba-rimba. Sesampainya disana, pengunjung dapat menyaksikan keindahan panorama Nagari Maek di sebelah barat dan Nagari Gunuang Malintang di sisi timur.
Menurut penuturan penduduk setempat, Barmawi (78 tahun), keunikan Bukit Posuak ini punya nilai daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. “Beberapa turis yang sudah sampai ke sana ada yang berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Jepang, “paparnya.
Ada legenda yang berkembang di kalangan masyarakat setempat mengenai asal muasal bolongan di bukit itu. Konon, dahulu ada seorang sakti bernama Baginda Ali, penguasa Maek dan Gunuang Malintang. Tubuhnya besar dan makannya banyak. Dia digambarkan sebagai raksasa dengan sifat pemurah.
Dikisahkan ada seorang warga Gunuang Malintang berburu rusa tanpa sepengetahuan Baginda Ali. Padahal menurut aturan yang berlaku kala itu, setiap kegiatan perburuan harus mendapat izin dari penguasa itu.
Setelah berhasil menangkap rusa, paha hewan tersebut diserahkan pemburu itu kepada Baginda Ali sebagai upeti. Namun, karena merasa tersinggung, sang raksasa tak mau menerima persembahan itu. Karena murka, diambilnya paha rusa tadi, lalu dilemparkannya sekuat tenaga, hingga mengenai sebuah bukit dan menembus batu besar yang ada di puncaknya.
Paha rusa itu mendarat di atas padang alang-alang di bukit lainnya, yang sekarang disebut Bukit Pao Ruso (Bukit Paha Rusa). Sementara puncak bukit yang bolong itu dinamai Bukit Posuak.

Seribu Menhir Di Dasar Bumi



Sepanjang yang saya tahu, Nagari Maek menjadi terkenal di kalangan masyarakat Kabupaten 50 Koto karena akses jalannya yang rumit. Dan, itu benar adanya. Untuk mencapai nagari(semacam desa di Sumatera Barat) ini, berkali-kali saya harus melewati turunan dan tanjakan curam. Belum lagi, tikungan-tikungan tajam dan jalanan rusak sepanjang beberapa kilometer
Tapi, bukan medan ekstrem ini yang mendorong saya menyambangi Maek. Banyak hal menarik bisa kita saksikan di daerah ini. Selain pemandangan indah khas pedesaan yang dimilikinya, di nagari ini juga tersebar peninggalan megalitik dalam jumlah ratusan, bahkan mungkin seribuan lebih. Di antaranya, berupa menhir, batu dakon, dan batu lumpang. Temuan menhir paling dominan dijumpai disini, sehingga Maek dijuluki “Nagari Seribu Menhir”.
Langit terlihat cerah hari itu. Dari Kubang, saya berangkat menggunakan sepeda motor ke Maek. Suasana jalan menuju daerah itu bisa dibilang sangat sepi. Hanya kesegaran hutan hujan tropis dan suara-suara serangga menemani perjalanan saya. Setelah satu jam berkendara, saya pun tiba di Maek. Senyum ramah penduduk di sepanjang jalan desa ini menyambut kedatangan saya.
Nagari Maek atau juga populer dengan sebutan Mahat, berada sekitar 50 km dari pusat kota Payakumbuh dan masuk dalam wilayah Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten 50 Koto, Sumatera Barat. Nagari seluas 122 km persegi ini terletak di dasar lembah yang dikepung oleh bukit-bukit. Beberapa diantaranya adalah Bukit Baranak, Bukit Posuak, Bukit Gondang, Bukit Kosan, Bukit Simun, Bukit Pao Ruso, dan Bukit Tembok. Titik terendah kawasan ini berada di Jorong Ronah, yakni 260 meter di atas permukaan laut. Untuk diketahui, jorong adalah satuan wilayah kecil yang berada di bawah nagari.
Kondisi topografi ini menjadikan Maek lebih rendah dari nagari-nagari di sekitarnya. Sampai-sampai, salah satu media cetak di luar negeri menjuluki Maek sebagai Negeri Di Dasar Bumi. “Karena lokasinya dikelilingi perbukitan, banyak orang bilang Maek itu tak ubahnya seperti kuali besar,” ujar Fitrianti alias Upik (44), warga Ronah Maek.
Cagar Budaya Megalit Balai Batu di Jorong Kotogodang menjadi tujuan pertama saya. Setelah berjalan menyusuri jalan kecil berlantai batu sejauh 80 meter, sampailah saya di sebuah padang datar cukup luas. Belasan menhir tampak menancap di atas tanah berumput ini. Sebagian saya dapati dalam posisi rebah. Bentuknya beragam, ada yang agak pipih, ada pula yang lonjong. Pada salah satu menhir, terdapat ukiran bermotif sulur-sulur melengkung.
Pohon-pohon karet yang tumbuh di sekitar lokasi situs membuat area ini terasa sedikit teduh. Tak ada satu pun penjaga atau pun orang yang saya jumpai di situ. Kata penduduk setempat, cagar budaya ini termasuk jarang dikunjungi wisatawan. Ia lebih sering dijadikan lokasi penelitian oleh sejumlah kalangan akademisi, khususnya mereka yang mendalami arkeologi.
Di sisi barat laut kawasan ini, ada susunan bebatuan kali membendung tanah berdenah persegi seluas 6x6 meter, dengan tinggi sekitar satu meter. Dahulu, di tengah-tengah punden ini terdapat sebuah menhir setinggi 1,5 meter. Sayang sekali, sekarang batu itu tidak diketahui lagi ke mana rimbanya. “Punden datar inilah yang disebut balai batu,” terang tokoh masyarakat Nagari Maek, Zulkarnaini.
Ia mengisahkan, di masa lalu, balai batu dijadikan sebagai tempat pertemuan oleh para pimpinan adat di Maek yang disebut Niniak nan Barompek (empat orang tetua adat). Mereka adalah Datuak Maharajo Indo, Datuak Siri, Datuak Bandaro, dan Datuak Rajo Dubalai. “Tradisi pertemuan di tempat ini masih berlangsung hingga 1955,” tuturnya.
Sekitar lima kilometer arah utara Kotogodang, tepatnya di Jorong Kototinggi, ada situs arkeologi lainnya bernama Cagar Budaya Menhir Bawah Parit. Area yang lebih luas dari situs sebelumnya ini dikelilingi pagar tembok dan kawat. Beberapa pohon akasia tumbuh rimbun di kawasan ini. Begitu melewati pintu gerbangnya nan megah, saya melihat ratusan menhir beragam ukuran menancap di atas sebuah gundukan tanah berumput. Pemandangan ini mirip nisan-nisan di kompleks pemakaman kuno.
“Dari yang saya hitung, jumlah menhirnya mencapai 485 buah,” terang Barmawi(78), mantan juru pelihara Situs Bawah Parit.
Umumnya, menhir-menhir di Bawah Parit masih dalam kondisi utuh. Namun, ada pula sebagian yang posisinya sudah miring dan rebah. Bentuknya pun macam-macam, mulai dari ujung atas seperti mata pedang, melengkung, menyerupai kepala-kepala binatang, hingga bentuk tak beraturan. Di lokasi ini, saya juga menjumpai menhir berhiaskan ukiran dengan pola yang unik.
Slein kedua cagar budaya tadi, masih banyak lagi situs arkeologi yang bisa kita saksikan di Maek. Sebut saja situs Ampang Gadang, Situs Ronah, Situs Aur Duri, Situs Padang Ilalang, dan Situs Nenan. Sayang, waktu satu hari terasa tak cukup buat saya menjelajahi semua tempat itu.
Ada hal menarik dari keberadaan menhir-menhir ini. Setelah diteliti, posisi batu-batu dari periode neolitik itu ternyata menghadap persis ke arah Gunung Sago yang letaknya berpuluh-puluh kilometer sebelah tenggara Maek. Ini menjadi bukti, penduduk yang mendiami daerah ini dulunya menganut animisme. “Karena menurut tradisi kepercayaan ini, tempat-tempat tinggi menjadi acuan dalam ritual pemujaan arwah leluhur, dan Gunuang Sago adalah salah satunya,” jelas Zulkarnaini.
Peradaban di Maek, kata dia, diperkirakan sudah berlangsung selama ribuan tahun. Bahkan hasil penelitian Guru Besar Filologi Universitas Andalas, Prof Dr Nadra menyimpulkan, nagari tertua di Minangkabau adalah Maek. Bukan Pariangan, seperti yang disebut dalam Tambo selama ini.

Cerita Dari Kampung Singkong

Masyarakat adat Cirendeu merdeka lahir batin dari ketergantungan beras.
Bagi umumnya orang Asia, nasi sudah menjadi makanan wajib setiap hari. Tak terkecuali masyarakat Indonesia. Namun, jika bertandang ke pinggiran selatan Kota Cimahi, anda akan mendapati orang-orang yang sejak lahirnya tak pernah mengenyam nasi. Bertahun-tahun, mereka mengkonsumsi singkong atau ketela sebagai makanan pokok.
Komunitas unik ini bermukim di Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan. Kawasan ini dikenal dengan Kampung Adat Cirendeu. Kendati secara administratif masuk ke dalam wilayah kota, lokasi kampung tersebut cukup terisolasi alias jauh dari keramaian.
Untuk mencapainya, dari pusat Kota Cimahi kami harus menempuh medan dengan tanjakan dan turunan curam. Sesampainya di depan jalan masuk kampung, saya melihat papan penyambut bertuliskan dua baris kalimat dalam aksara Sunda. Wilujeung Sumping di Kampung Cirendeu Rukun Warga 10 yang artinya Selamat datang di Kampung Cirendeu RW 10.
Jalanan masuk kampung ini tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Saya pun harus memarkirkan mobil ini di depan kantor RW yang berada di luar area pemukiman warga. Salah seorang warga kemudian menyarankan saya menemui Ketua Kelembagaan Masyarakat Adat Kampung Cirendeu, Sudrajat.
Mengatasi Kelaparan
Saya dan Agung cukup berjalan kaki menuju rumah Jajat, sapaan akrab Sudrajat. Saat menyusuri kampung kecil ini, kami menjumpai rumah-rumah yang tidak berbeda dengan pemukiman pada umumnya. Perumahan di kawasan ini dibangun secara modern, yakni beratap genting dan berdinding semen.
Beberapa menit kemudian, kamu pun sampai di kediaman Jajat. Dari penuturan lelaki berumur 33 tahun itulah kami memperoleh informasi seputar kampung adat ini.
Kampung Cirendeu, terang dia, terdiri atas empat rukun tangga (RT) dan dihuni oleh  sekitar 300 kepala keluarga (KK). Tapi komunitas yang benar-benar konsisten menjalankan adat hanya 65 KK. Mereka terkonsentrasi di RT 2 dan 3. Warga yang bermukim di kedua RT tersebut umumnya adalah penganut kepercayaan tradisional atau disebut juga dengan Sunda Wiwitan.
“Pernah kejadian saat beberapa orang di antara kami mengurus KTP. Petugas di kantor dinas terkait sempat bingung, agamanya mau ditulis apa?” kisah Jajat. Pasalnya, kata dia, dari sekian banyak agama yang diakui secara resmi di negara ini, Sunda Wiwitan tidak tercantum. Akhirnya, sebagian warga di sini ada yang hanya ditulis tanda setrip pada bagian agama, sedangkan yang lainnya menggunakan istilah “aliran kepercayaan”.
Laki-laki itu sempat pula membawa kami melihat-lihat kebun singkong milik penduduk. Saya melihat sebuah tanah pekuburan di dekat kebun itu. Kata Jajat, di dalam area ini makam Muslim dan penganut Sunda Wiwitan letaknya berdampingan. Saya nyaris tak bisa membedakan mana pusara Muslim, mana yang bukan. Pasalnya, semua tampak sama. “Yang membedakan hanya isinya. Kalau jenazah Muslim, dikafani dulu sebelum dimakamkan, sedangkan yang Sunda Wiwitan dimasukkan ke dalam peti sebelum dikuburkan,” jelas Jajat.
Sekita 70 persen penduduk di kampung ini bermatapencaharian sebagai petani ketela. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat Cirendeu yang menjadikan tumbuhan tersebut sebagai makanan pokok. Setiap keluarga memiliki tiga sampai lima petak kebun ketela yang berbeda-beda masa tanamnya.
Menurut cerita yang diwarisi Jajat dari para tetua adat Cirendeu, sejarah singkong menjadi makanan utama di kamping berawal pada 1918. Kala itu, sawah-sawah milik penduduk setempat mengalami kekeringan, sehingga menyebabkan puso. Ditambah lagi, sektor pertanian saat itu kebanyakan dikuasai oleh tuan tanah dan pemerintan kolonial Hindia-Belanda.
Melihat kondisi tersebut, salah satu tokoh adat Cirendeu pada masa itu Haji Ali berusaha mencari jalan keluar supaya masyarakat tidak kelaparan. “Ia mulai berpikir, masyarakat tidak harus selalu bergantung pada beras atau padi. Ia ingin memerdekakan warga Cirendeu secara lahir dan batin,” imbuhnya.
Sejak itu, dicobalah bermacam-macam tanaman untuk menggantikan padi. Mulai dari sorgum, hanjeli, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian. Pada akhirnya, Haji Ali mendengungkan kepada masyarakat kampung ini agar membudidayakan ketela pohon secara massal, alih-alih menanam padi di sawah. Pasalnya, tanaman ini bisa tumbuh tanpa mengenal waktu, baik pada musim kemarau maupun penghujan.
Dari Eggroll Sampai Dendeng Kulit Singkong
Pada 1924, singkong mulai dikonsumsi oleh masyarakat Cirendeu. Kebiasaan ini mulai menjadi budaya setelah Omah Asmanah, menantu Haji Ali mengolah ketela menjadi beragam makanan. “Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan rasi alias beras singkong di Cirendeu,” terang Jajat. Bahan makanan ini diperoleh dengan cara menyaring dan menjemur ampas aci (tapioka).
Sampai sekarang, rasi(dalam bahasa sunda disebut sangeun) inilah yang dijadikan makanan pokok oleh masyarakat Cirendeu. Pada masa-masa selanjutnya, budaya ini ternyata menguntungkan masyarakat Cirendeu. Ketika harga beras dan kebutuhan pokok lainnya melambung, penduduk di kampung ini tidak ikut terpengaruh. Atas sumbangsih tersebut, pada 1964 Kawedanan Cimahi menganugerahi Omah penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”.
Ketahanan pangan yang dimiliki masyarakat Cirendeu tidak saja membuat kampung ini menarik perhatian lokal, tapi juga dari manca negara. Beberapa di antaranya adalah perwakilan dari Mozambik dan negara-negara ASEAN.
Kampung Cirendeu, kata Jajat lagi, telah mematahkan asumsi keliru yang pernah berkembang sebelumnya, yaitu mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok hanya dilakukan oleh orang-orang yang terbelakang secara sosial dan ekonomi. Buktinya, kehidupan masyarakat di kampung ini selalu mengikuti pola perkembangan zaman. Hal tersebut bisa dilihat dari segi desain rumah yang modern, hingga kesempatan warga mengenyam pendidikan tinggi. “Sekarang, kampung ini punya lima orang sarjana dan banyak pula yang masih kuliah,” tuturnya.
Jajat mengantar kami berkeliling Cirendeu. Wilayah pemukiman ini berdiri di atas tanah dengan kontur bergelombang. Pada area-area tertentu, pohon-pohon ini tumbuh meneduhi kawasan ini.
Tak jauh dari Balai Sarasehan, terdapat sebuah rumah yang menjadi tempat pembuatan beragam penganan berbahan ketela. Disini, singkong tak hanya diolah menjadi aci dan rasi, tapi juga bermacam-macam makanan ringan. “Ada kicipir,cheesestick, eggroll, cireng, dan opak bumbu. Bahkan, ada juga inovasi terbaru berupa dendeng kulit singkong,” papar Euis (51), seorang pengusaha snack singkong di kampung ini. 

Berkunjung ke Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon

Sebuah pintu berukuran liliput menyimpan makna yang sangat besar untuk diresapi.
Saat waktu ashar menjelang, tiba-tiba saja suami melontarkan ide untuk shalat ashar berjama’ah di Masjid Sang Cipta Rasa. Meskipun saya asli orang Cirebon, terus terang saya belum pernah shalat di sana.
Masjid ini berada di Kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon. Tepatnya di bagian depan keraton, bersebelahan langsung dengan alun-alun Kasepuhan. Berbeda dengan masjid pada umumnya di Indonesia yang menggunakan nama berbahasa Arab, masjid ini mengambil namanya dari bahasa lokal. “Sang” dari Sang Cipta Rasa memiliki arti “keagungan”, sementara “cipta” bermakna “pembangun” dan “rasa” bermakna “manfaat”.
Begitu datang ke area masjid, kami disuguhi lansekap bangunan klasik dengan atap berbentuk limas dan pagar memanjang yang terbuat dari bata merah. Pagar ini mengelilingi sekujur bangunan masjid yang menjadi ciri khas masjid kuno di Cirebon.

Mengenal Kota Padangpanjang

Seluruh manusia disana bergembira dalam sorak-sorak, bahkan jika jagoan mereka kalah sekalipun.
Padangpanjang adalah kota yang berbahagia. Di sana, ada batu kapur yang memberi hidup , sawah, sungai dan rel kereta yang kadang melindas orang mati. Padangpanjang memang berbeda dengan kota-kota lain. Di kota kecil ini di kaki Gunung Singgalang ini, tak seorang pun hidup dengan mati-matian.
Mereka hidup seenaknya. Berjalan boleh lenggang kangkung. Setiap hari, dari pagi sampai tengah malam, orang dapat duduk-duduk. Atau, bermain kartu di kedai sambil berutang segelas kopi, tanpa dapat muka masam dari si empunya kedai. Hingga, ke mana kita bertandang, perempuan atau gadis-gadis akan cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita.